BAB 8 TIDUR DAN TERJAGA
TIDUR DAN TERJAGA
SIKLUS ENDOGEN :
Pada dasarnya, hewan harus menyiapkan dirinya untuk menghadapi perubahan (seperti perubahan cahaya matahari dan suhu). Kesiapan hewan menghadapi perubahan musim dipicu oleh sebagian mekanisme internal.
RITME SIRKANDIAN ENDOGEN :
Ritme sirkandian endogen adalah sebuah ritme yang berdurasi sekitar satu hari. Ritme srikandian endogen dalam diri kita merupakan pengendali tidur dan terjaga. Jika kita tidak tidur semalaman maka semakin malam kita akan merasa semakin mengantuk hingga menjelang pagi. Tetapi, ketika pagi hari, kita akan mulai mersasa tidak terlalu mengantuk. Ternyata sebagian besar dorongan untuk tidur bergantung pada waktu dalam satu hari bukan dari tidur yang baru kita lakukan.
Siklus tidur berlangsung seacara konsisten untuk setiap individu dalam sebuah lingkungan hidup tertentu, walaupun lingkungan tersebut tidak memperlihatkan perubahan waktu. Semua mamalia (termasuk manusia), memiliki ritme sirkandian yang berfungsi untuk mengatur kapan kita tidur dan kapan kita terjaga. Siklus sirkandian pada tiap individu berbeda. Biasanya, individu yang bangun tidur lebih awal menjadi lebih produktif dan kewaspadaannya akan berkurang secara bertahap seiring berjalannya waktu. Dan individu lain lebih sulit bagun pagi dalam makna denotative dan konotatif. Individu yang performanya lebih baik setelah kurang tidur adalah individu yang memiliki tingkat aktifitas otak yang lebih tinggi.
DURASI RITME SIRKANDIAN MANUSIA :
Percobaan dengan menyediakan cahaya dan kegelapan dalam sebuah siklus yang tidak dapat diikuti oleh orang lain. Hasilnya, seabgain besar individu dapat menyesuaikan diri terhadap ritme yang berlangsung selama 23 atau 25 jam sehari, tetapi tidak terhadap ritme yang berlangsung selama 22 atau 28 jam sehari.
Peneliti memberi perlakuan terhadap sekelompok individu dewasa yang sehat berupa 28 jam sehari dalam sebuah ruangan. Hasilnya, ternyata tidak ada seorangpun yang dapat menyingkronisasi diri dengan panjang hari tersebut. Hsl itu yang membuat mereka menghasilkan ritme kewaspadaan dan suhu tubuh secara mandiri.
MEKANISME JAM BIOLOGIS :
Curt Richter memperkenalkan sebuah konsep bahwa otak menghasilkan ritmenya sendiri yang merupakan jam biologis. Ia juga menyatakan bahwa jam biologis tersebut tidak sensitive terhadap sebagian gangguan. Cara yang diyakini paling jitu untuk mengganggu jam biologis adalah dengan merusak sebuah area pada hipotalamus yang disebut nucleus suprakiasma, karna nucleus suprakiasma adalah pengendali utama ritme sirkandian pada tidur dan suhu tubuh. Setelan SCN dirusak, secara otomatis ritme tubuh menjadi kurang konsisten dan tidak lagi sinkron dengan pola terang-gelap yang ada pada lingkungannya.
BIOKIMIA RITME SIRKANDIAN :
Beberapa individu yang mengalami mutase pada gen per memiliki siklus sirkandian yang aneh, yaitu jam biologis yang berangsug lebih cepat dari 24jam, sehingga mereka secara konsisten akan mengantuk pada sore hari dan akan terbangun pada dini hari. Sama halnya dengan individu yang mengalami gangguan tidur lainnya, mereka yang mengalami kerusakan gen per juga akan menderita depresi.
PENGATURAN DAN PENGATURAN ULANG JAM BIOLOGIS :
Manusia memiliki ritme sirkandian yang berdurasi mendekati 24 jam, tetapi sama sekali belum sempurna. Walaupun tanpa adanya cahaya, ritme sirkandian akan tetap berlangsung tanpa adanya gangguan. Stimulus yang mengatur ulang ritme sirkandian dikenal dengan zeitgeber atau “penambah waktu”.
JETLAG :
Jet Lag adalah gangguan terhadap ritme sirkandian akibat dari pelintasan zona waktu. Jet lag muncul karna ketidaksesuaian antara waktu sirkandian internal dan waktu eksternal. Sebagian besar individu merasa penyesuaian terhadap jet lag dapat mengakibatkan stress. Stress akan menyebabkan peningkatan hormone kortisol pada darah yang menyebabkan hilangnya neuron dalam hipokampus. Hipokampus adalah area otak yang berperan dalam memori.
TAHAPAN DALAM TIDUR DAN MEKANISME OTAK :
Awal periode tidur disebut dengan tidur tahap pertama, yaitu hasil pengukuran EEG didominasi oleh gelombang patah-patah tidak beraturan yang bervoltase rendah. Aktivitas otak secara keseluruhan masih tinggi, tetapi mulai menurun.
Tidur tahapan kedua memiliki karakteristik spindel tidur dan kompleks-K. Spindel tidur terdiri dari gelombang berfrekuensi 12-14 Hz yang berlangsung selama ledakan (aktivitas), paling tidak selama setengah detik. Spindel tidur adalah hasil dari interaksi antara sel-sel pada talamu dan korteks yang berosilasi.
Di dalam tahapan tidur selanjutnya, detak jantung, tarikan napas, dan aktivitas menyinkronisasi sejumlah besar sel. Analoginya, serbuan stimulus yang masuk ke otak layaknya ribuan batu yang jatuh ke dalam kolam dalam periode satu menit. Gelombang yang dihasilkan oleh batu-batu tersebut umumnya saling meniadakan. Permukaan kolam terlihat beriak kecil dan hanya terdapat beberapa gelombang besar. Sebaliknya, ketika hanya ada satu batu besar yang jatuh ke dalam kolam, gelombang yang dihasilkan hanya sedikit, tetapi lebih besar sama halnya seperti yang ditemukan pada tidur tahap keempat.
TIDUR PARADOKS DAN TIDUR REM :
Istilah tidur REM digunakan peneliti untuk manusia, sedangkan istilah tidur paradoks untuk berbagai spesies hewan karena banyak yang tidak menghasilkan pergerakan mata. Selama berlangsungnya tidur paradoks atau tidur REM, hasil rekaman EEG memperlihatkan adanya gelombang cepat tidak beraturan yang bervoltase rendah, menandakan adanya peningkatan aktivitas neuron, dalam kasus tersebut tidur REM merupakan tidur tidak pulas. Tidur REM juga diasosiasikan dengan ereksi pada pria dan kelembapan vagina pada wanita. Tahap tidur selain tidur REM disebut tidur tahap nonREM (NREM).
PROSES MENUJU TIDUR :
Agar tidur dapat berlangsung, dibutuhkan penurunan kegairahan dengan bantuan adenosin. Apabila individu kurang tidur, adenosin yang terakumulasi akan menghasilkan rasa kantuk yang diperpanjang—dikenal dengan nama “utang tidur” (sleep debt).
FUNGSI OTAK PADA TIDUR REM :
Dalam periode tidur REM, terjadi peningkatan aktivitas pada pons dan sistem limbik (yang berperan penting untuk respons emosi). Tidur REM diasosiasikan dengan pola potensial listrik beramplitudo tinggi yang disebut gelombang PGO (Pons-Genikulat-Oksipital), yaitu sebuah gelombang aktivitas neuron yang ditransmisikan mulai dari pons, genikulat lateral, dan diakhiri pada lobus oksipital.
GANGGUAN TIDUR :
Jika Anda terus-menerus merasa lelah setelah bangun tidur, maka Anda mengalami insomnia yang merupakan penyebab utama kecelakaan pada pekerja dan performa buruk pada mahasiswa. Beberapa penyebab insomnia, antara lain: suara, suhu yang tidak nyaman, stres, nyeri, pola makan, dan pengobatan. Insomnia juga timbul karena epilepsi, penyakit Parkinson, tumor otak, depresi, kegelisahan, serta gangguan saraf dan gangguan psikologis lainnya. Obat penenang dan alkohol dapat menyebabkan ketergantungan, sehingga memperpanjang periode terjaga individu tersebut yang memasuki kondisi penarikan diri.
- Apnea tidur : yaitu ketidakmampuan bernapas ketika tidur. Sebagian besar individu di atas umur 45 tahun terkadang pernah mengalami periode tidak bernapas ketika tidur, yang berlangsung selama paling tidak 9 detik dan biasanya terjadi pada saat tidur REM. Akan tetapi, individu yang mengalami periode apnea lebih lama, terkadang berlangsung semenit atau lebih. Kemudian individu tersebut akan terbangun terengah-engah kehabisan napas. Konsekuensi yang muncul—rasa kantuk di siang hari, gangguan terhadap perhatian, depresi, dan terkadang gangguan jantung. Apnea tidur dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti: gen, hormon, kerusakan mekanisme pengendali napas akibat lanjut usia, dan obesitas.
- Narkolepsi : Narkolepsi adalah sebuah kondisi yang ditandai oleh seringnya muncul periode rasa kantuk di siang hari (Aldrich, 1998), kondisi tersebut menjangkiti 1 di antara 100 orang. Terkadang kondisi tersebut diturunkan dalam keluarga, walaupun belum ada gen terkait dengan narkolepsi yang berhasil diidentifikasi oleh banyak penderita yang tidak memiliki kerabat dekat dengan penyakit sama.
- Gangguan pergerakan anggota badan periodik : Yaitu sebuah gerakan refleks kaki dan terkadang tangan yang berulang (Edinger, dkk., 1992). Pergerakan kaki di saat tidur tidak menjadi masalah, kecuali hal tersebut muncul terus-menerus. Tendangan kaki yang kuat atau terlalu sering terjadi dapat membangunkan individu tersebut. Sebagian besar individu yang paruh baya atau lanjut usia, umumnya terjadi tendangan kaki setiap 20-30 detik dalam hitungan beberapa menit atau bahkan berjam-jam pada saat tidur NREM. Pada beberapa kasus, obat penenang dapat meredakan gangguan tersebut.
- Gangguan prilaku REM : Penderita bergerak-gerak dengan penuh semangat di dalam periode REM, sepertinya mereka bergerak sesuai dengan mimpi. Penderita gangguan tersebut seringkali bermimpi mempertahankan diri dari serangan, mereka dapat bergerak memukul, menendang, dan bahkan melompat. Sebagian besar penderita melukai diri sendiri atau individu lain serta merusak barang-barang di sekitar mereka. Gangguan ini paling sering ditemukan pada individu lanjut usia, terutama pria lanjut usia penderita penyakit otak.
- Teror malam, mengingau dan tidur berjalan : Teror malam adalah sebuah pengalaman kegelisahan yang memuncak yang menyebabkan penderitanya terbangun dari tidur dan berteriak. Teror malam muncul dalam periode tidur NREM, lebih banyak terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Sebaiknya ini dibedakan dengan mimpi buruk. Mengigau adalah hal umum yang tak membahayakan, sebagian besar atau mungkin banyak individu yang sesekali berbicara dalam tidur. Mengigau terjadi pada periode tidur NREM dan REM. Tidur berjalan biasanya muncul dalam tidur tahap ketiga dan keempat pada permulaan periode tidur malam hari (tidak terjadi pada tidur REM karena otot telah benar-benar berelaksasi). Penyebabnya belum dapat diketahui.
MANFAAT TIDUR :
Hal-hal yang terjadi selama kita tidur; antara lain otot-otot diistirahatkan, metabolisme menurun, penyusunan ulang protein di otak, mengorganisasi ulang, dan memperkuat memori. Individu yang kekurangan tidur mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan lebih rentan terhadap penyakit.
- Tidur dan Konservasi Energi :
Semua spesies membutuhkan tidur, bahkan bakteri pun memiliki ritme sirkadian. Sebuah hipotesis dapat diterima yang menyatakan bahwa tidur pada awalnya hanya merupakan sebuah cara untuk mengonservasi (menyimpan) energi. Selama tidur berlangsung, suhu tubuh mamalia turun sekitar 1-2°C, penurunan suhu tersebut cukup untuk mengonservasi energi dalam jumlah signifikan.
- Fungsi restorasi tidur : Individu yang tidak tidur selama seminggu, untuk penelitian maupun untuk pertunjukan, melaporkan adanya rasa pusing, gangguan konsentrasi, mudah marah, tremor pada tangan, dan halusinasi. Bahkan satu malam tanpa tidur, dapat meningkatkan aktivitas imun secara sementara. Artinya, tubuh Anda bereaksi terhadap pengurangan tidur seolah-olah Anda sakit. Akan tetapi, setiap individu memiliki kebutuhan tidur yang berbeda.
- Tidur dan memori : Hasil-hasil percobaan mengindikasikan bahwa tidur memperkuat memori. Tidur juga membantu kita untuk menganalisis ulang ingatan.
MANFAAT TIDUR REM :
Tidur REM diduga memiliki fungsi biologis. Kemampuan untuk melakukan tidur REM adalah warisan proses evolusi kita. Spesies-spesies tertentu memiliki periode tidur REM yang lebih panjang daripada yang lainnya. Bayi memiliki durasi REM dan total tidur terpanjang jika dibandingkan dengan individu dewasa. Hal tersebut bersesuaian dengan pola semakin panjang total durasi tidur, maka semakin besar persentase tidur REM yang terjadi. Kaitan antara usia dan lama tidur REM manusia juga mempengaruhi.
HIPOTESIS - HIPOTESIS :
Kita memerlukan tidur REM, karena tidur REM berperan penting dalam proses penyimpanan memori atau membantu otak menyingkirkan hubungan-hubungan tidak berguna yang secara tidak sengaja terbentuk dalam satu hari. Tidur adalah waktu untuk memperkuat memori.
Tidur REM dan NREM mungkin berperan penting dalam proses mengonsolidasi tipe-tipe ingatan yang berbeda-beda. Individu yang mengalami pengurangan periode awal tidur di malam hari akan menderita gangguan proses belajar verbal seperti mengingat urutan kata-kata.
PERSPEKTIF BIOLOGIS TENTANG MIMPI :
Sigmund Freud dalam teorinya mengatakan bahwa mimpi merupakan refleksi dari keinginan tersembunyi dan terkadang tidak disadari (didasari oleh alam bawa sadar), yang didistorsi otak dalam upaya “menyensornya”. Sel-sel otak berada dalam keadaan aktif, lalu sel-sel otak akan menjadi aktif apabila saraf perfier menyuplai energy.
HIPOTESIS AKTIVASI SINTESIS :
Sigmund Freud telah menyimpulkan bahwa otak secara aktif mendistorsi informasi untuk menghasilkan mimpi, sedangkat ada pendapat lain yang justru menyatakan bahwa mimpi mempresentasikan usaha otak untuk memaknai informasi yang telah terdistorsi. Mimpi sendiri memiliki pengaruh emosional yang kuat.selama berlangsungnya gelombang PGO, sebagian besar korteks prefrontal akan menjadi tidak aktif sehingga memori akan menjadi lemah. Ketika kita terbangun, kita akan melupakan mimpi yang kita alami saat tidur bahkan apa yang terjadi di dalam mimpi tersebut.
HIPOTESIS KLINIKO ANATOMIS :
Hipotesis Kliniko Anatomis menyatakan bahwa mimpi berawal dari adanya pembangkitan stimulus yang dihasilkan di dalam otak, kemudian bergabung dengan memori terbaru dan informasi sensoris. Titik pembuka kedua teori tersebut, yaitu pada hipotesis kliniko anatomis, hal-hal seperti pons, gelombang PGO, bahkan tidur REM tidak terlalu berperan. Mimpi sendiri sama dengan berpikir, yang terjadi dalam keadaan kondisi yang tidak umum. Kondisi yang tidak umum ini adalah dimana otak mendapat informasi yang lebih sedikit dibandingkan dengan organ-organ indera. Berdasarkan hipotesis kliniko anatomis, sebgaian mimpi dicetuskan oleh stimulus eksternal, tetapi sebagian lainnya dicetuskan oleh motivasi otak yang mandiri, memori, dan kegairahan. Stimulasi tersebut yang kadang menghasilkan hasil yang unik karena stimulus tidak harus selalu berkompetisi dengan input visual normal dan tidak dihalangi oleh korteks prefrontal.
DAFTAR PUSTAKA :
https://www.babycentre.co.uk/c4826/baby-sleep
Kalat, J.W. (2010) .Biopsikologi:Biological Psychology. Jakarta : Salemba Humanika
Kalat, J.W. (2010) .Biopsikologi:Biological Psychology. Jakarta : Salemba Humanika

Komentar
Posting Komentar